Matematika Tidak Menakutkan. Mungkin Caranya yang Perlu Diubah.
Selama 13
tahun saya menjadi guru, ada satu kalimat yang paling sering saya dengar dari
siswa:
"Saya
takut matematika, Bu."
Ketika
saya kemudian memulai perjalanan baru sebagai dosen Pendidikan Matematika, satu
pertanyaan terus terlintas di pikiran saya:
Apa Itu Kecemasan Matematika?
Dampaknya
nyata:
- Sulit berkonsentrasi
- Merasa tidak mampu
- Menghindari pelajaran
matematika
- Bahkan memilih jurusan atau
karier yang menjauh dari angka
Jadi, Siapa yang Lebih Cemas?
Dalam
penelitian yang saya lakukan, kami mengukur tingkat kecemasan matematika dan membandingkannya berdasarkan gender.
Hasilnya
mungkin tidak sesuai dengan asumsi banyak orang.
Artinya?
Maka, Di Mana Letak Masalahnya?
Jika
bukan gender, lalu apa?
Dari
pengalaman mengajar bertahun-tahun dan dari berbagai kajian ilmiah, saya
semakin yakin:
Yang
membentuk kecemasan matematika bukanlah kemampuan bawaan,
melainkan pengalaman belajar.
- Cara guru menjelaskan
- Suasana kelas
- Cara kita menilai kesalahan
- Seberapa sering siswa diberi
kesempatan mencoba tanpa takut salah
Sering
kali, matematika menjadi menakutkan bukan karena sulit,
tetapi karena siswa merasa tidak aman.
Dari Guru Menjadi Dosen
Penelitian
ini memiliki makna yang sangat pribadi bagi saya.
Setelah
13 tahun menjadi guru dan kini memasuki 6 bulan perjalanan sebagai dosen, ini
adalah publikasi ilmiah pertama saya sebagai akademisi.
Bagi
sebagian orang, ini mungkin hanya artikel penelitian.
Bagi saya, ini adalah jembatan antara pengalaman di ruang kelas dan dunia
akademik.
Ini
adalah upaya kecil untuk mengatakan:
Kita
perlu berhenti menyalahkan gender.
Dan mulai memperbaiki cara kita mengajar.
Sebuah Harapan
Saya
percaya matematika tidak diciptakan untuk menakut-nakuti.
Ia diciptakan untuk membantu kita berpikir, menganalisis, dan memecahkan
masalah.
Mungkin
pertanyaannya bukan lagi:
"Siapa
yang lebih takut matematika?"
Tetapi:
"Bagaimana
kita membuat setiap anak merasa percaya diri menghadapi matematika?"
Karena
ketika rasa takut diganti dengan rasa ingin tahu,
matematika berubah dari ancaman menjadi peluang.
Dan
mungkin, di sanalah perubahan pendidikan benar-benar dimulai.
Sumber :
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/sigma/article/view/20028
Comments
Post a Comment