Sharing Cerita Waktu Lagi Burnout (Teacher Burnout)

✍️ Sharing Cerita Waktu Lagi Burnout

Jumat, 7 Maret 2025

Pernah dengar tentang teacher burnout?
Mungkin teman-teman sesama guru atau dosen pernah mengalaminya...
Atau jangan-jangan, kamu sedang ada di titik itu sekarang?

Jujur saja, aku sedang mengalaminya.
Kalau aku ingat kembali, sejak akhir Februari 2025, aku mulai merasakan kelelahan yang luar biasa—disertai rasa bosan yang tidak biasa.

Padahal, sebenarnya aku sangat mencintai pekerjaanku sebagai pengajar.

Lalu, kenapa bisa begini?


⏰ Jadwal yang Sangat Padat

Aku termasuk tipe guru yang tidak suka bekerja lembur. Begitu pekerjaan di sekolah selesai, aku langsung pulang—bukan untuk istirahat, tapi untuk mengajar les privat online.

Kalau dihitung-hitung, jam kerja harianku kira-kira begini:

Senin
• 07.30 – 08.00 upacara
• Ngajar 3 sesi (105 menit)
• Ngajar 3 sesi lagi (105 menit)
• Ngajar 2 sesi (70 menit)
• Tuition malam 90 menit
🕒 Total: 400 menit (6 jam 40 menit)

Selasa
• 07.30 – 08.00 (kegiatan awal)
• Ngajar 3 sesi (105 menit)
• Ngajar 3 sesi lagi (105 menit)
• Ekskul 2 sesi (70 menit)
• Tuition malam 90 menit
🕒 Total: 310 menit (5 jam 10 menit)

Rabu
• 07.30 – 08.00 (kegiatan awal)
• Ngajar 3 sesi (105 menit)
• Ngajar 2 sesi (70 menit)
• Ngajar 2 sesi lagi (70 menit)
• Tuition malam 90 menit
• Les tambahan (sering overtime 120 menit)
🕒 Total: 485 menit (8 jam 5 menit)

Kamis
• 07.30 – 08.00 (kegiatan awal)
• Ngajar 1 sesi (70 menit)
• Math Club (90 menit)
• Tuition malam 90 menit
🕒 Total: 280 menit (4 jam 40 menit)

Jumat
• 07.30 – 08.00 (kegiatan awal)
• Ngajar 2 sesi (70 menit)
• Ngajar 3 sesi (105 menit)
• Tuition malam 120 menit
🕒 Total: 325 menit (5 jam 25 menit)

Jika dijumlahkan, Senin–Rabu saja aku sudah mengajar selama 1.195 menit atau 19 jam 55 menit.
Rata-rata lebih dari 6,5 jam sehari, hanya untuk kegiatan mengajar.

Padahal, aku masih harus berada di sekolah dari pukul 07.30 – 16.00.
Ditambah les malam, total jam kerjaku bisa mencapai 12 jam 30 menit setiap hari.


⚠️ Ketika Tubuh dan Pikiran Mulai Protes

Wajar saja kalau tubuhku mulai menyerah.

Aku sering sakit perut, merasa lemas, pegal-pegal, dan sulit fokus.
Yang paling menyedihkan: aku mulai tidak peduli dengan hasil belajar siswa.

Rasanya… mati rasa.
Yang tersisa hanya sedikit perhatian untuk keluarga—dan itu pun dengan tenaga terakhir.

Ironisnya, di saat aku kehabisan energi, murid-muridku justru semakin sering berulah.
Datang terlambat, tidak masuk kelas, atau tidak fokus belajar.
Sedih..


🤐 Terjebak dalam Sunyi

Aku bukan tipe guru yang senang bersosialisasi di sekolah.
Kalau ngobrol, biasanya hanya soal pekerjaan: nilai, tugas, atau rapor.
Aku menjaga batas—tidak ingin terlalu terbuka, dan tidak ingin terlalu ikut campur.

Syukurlah, batas itu dihargai oleh rekan-rekanku.

Tapi saat burnout seperti ini, aku merasa… aku butuh teman bicara.
Sayangnya, aku tidak tahu harus bicara pada siapa.

Aku bahkan sempat mencoba bicara dengan ChatGPT.
Tapi... jawabannya terasa terlalu manis, seperti template.
AI menjawab dengan data. Tapi manusia? Butuh didengarkan dengan rasa.


🌧️ Ketika Semua Terasa Berat

Pekerjaan-pekerjaanku mulai tertunda.
Aku sadar, saat ini aku sedang tidak sehat—secara fisik dan mental.

Aku sempat mencoba olahraga, tapi tidak berdampak.

Akhirnya aku memutuskan untuk menunda semua jadwal les malam, dan memilih untuk...
menonton anime.
12 episode. 1 season. Di hari Rabu.

Dan ternyata, itu sangat membantu.

Terkadang, tidak melakukan apa-apa adalah bentuk istirahat terbaik.

Kamis, aku merasa sedikit lebih baik.
Hari ini, Jumat, aku merencanakan untuk mengejar les yang tertunda:
• 14.10 – 15.40
• 18.00 – 19.30

Jujur, aku merasa berutang pada mereka.
Dan ya... aku butuh uang juga, hehe.


🧭 Langkah Kecil untuk Bangkit

Aku juga merencanakan sesuatu yang sederhana:
jalan-jalan ke museum bersama adik sepupu.

Kami bahkan sepakat pakai dress code: baju biru dan celana jeans.
Rasanya seperti anak SMA lagi — dan itu menyenangkan.

Bahkan membayangkannya saja sudah bikin semangat muncul kembali.


✍️ Menutup dengan Lega

Tadi aku akhirnya membatalkan jadwal les sore, dan menjadwalkan ulang ke hari Minggu.
Aku ingin menggunakan waktu kosong ini untuk menyiapkan materi minggu depan.

Karena bagaimanapun, aku tetap seorang guru yang profesional.

Burnout bukan alasan untuk menyerah.
Tapi juga bukan alasan untuk memaksakan diri.

Semangat untuk semua guru dan dosen yang sedang berada di fase ini.
Cobalah untuk menulis. Ceritakan isi hati. Jangan dipendam sendiri.

Tanpa terasa, aku menulis ini dari pukul 08.10 hingga 09.53.
Dan aku merasa sedikit lega.


Terkadang, tidak melakukan apa-apa adalah jeda dan istirahat terbaik.

Tetap waras. Tetap sehat. Jangan sampai burnout membuat kita menyakiti orang terdekat,
atau kehilangan diri sendiri.

Jangan biarkan burnout menghalangi profesionalisme kita sebagai pendidik.

Dari seorang guru yang sudah mengajar selama hampir 13 tahun.
Salam hangat dari aku.

Jumat, 7 Maret 2025

#pendidikbermakna #burnoutguru #healingjourney #dosenbercerita #mentalhealthpendidik #kisahseorangguru

Comments

Popular posts from this blog

Pagi yang Membisikkan Suara TUHAN

Aku dan Mimpiku