Pagi yang Membisikkan Suara TUHAN
Hari ini Kamis, 25 September 2025.
Begitu bangun pagi, aku langsung bersin-bersin. Duhhh, rasanya seperti tanda-tanda tidak beres dengan tubuhku. Aku tidak mau jatuh sakit, maka dengan sedikit paksaan, kutinggalkan kenyamanan hangat selimut. Aku bangun, mencuci muka, berganti pakaian, mengisi botol minum, lalu mengenakan sepatu. Jam menunjukkan pukul 6 pagi lewat beberapa menit, waktu Indonesia Tengah. Aku melangkah keluar dari kost, memulai pagiku dengan berjalan kaki.
Udara pagi menyambut dengan kesejukan yang begitu segar. Mentari muncul perlahan, malu-malu, seakan ingin memperlihatkan keindahannya dengan cara yang lembut. Sinar hangatnya menempel di kulitku, membawa rasa nyaman yang sulit diungkapkan. Dari kejauhan, kicauan burung berpadu membentuk harmoni yang seolah menyambut langkahku. Aku bergumam pelan, “Kalau direkam, pasti kalian langsung berhenti, kan?” berharap ada jawaban. Dan benar saja, ketika kuambil ponsel untuk merekam, paduan suara indah itu seketika terhenti. Lucu sekali. Dalam hati aku tertawa, “Mungkin mereka takut kena royalti, ya?” Ha ha ha.
Langkahku terus beriring semangat menuju fakultas tempatku bekerja. Selain hendak berolahraga ringan, aku juga ingin sekalian melakukan absen pagi. Sesampainya di area fakultas, aku berpapasan dengan seorang pria paruh baya. Umurnya mungkin sekitar 40-an atau 50-an—aku sendiri tidak terlalu pandai menebak usia seseorang. Ini adalah kali kedua aku berjumpa dengannya. Aku tersenyum, menyapa dengan salam, sambil dalam hati mengira beliau mungkin seorang dosen yang juga tengah menikmati udara segar pagi sambil berjalan kaki.
Setelah absen, aku memilih berjalan santai menuju arah perpustakaan. Jalan menanjak membuat napasku sedikit terengah, namun di sepanjang langkah itu, aku tidak berhenti bersyukur. Aku memandang pepohonan yang tinggi menjulang, bunga-bunga yang berwarna-warni, serta suara alam yang seakan menyanyi. Semua itu menjadi bukti nyata betapa indahnya pekerjaan TUHAN melalui ciptaan-Nya.
Saat hampir sampai di perpustakaan, tiba-tiba terdengar suara memanggil, “Enci…” (panggilan untuk guru atau dosen perempuan di Sulawesi Utara). Aku menoleh ke arah suara itu. “Selamat pagi,” sapanya ramah. Ternyata beliau adalah pria yang tadi aku temui. Kami pun terlibat dalam obrolan ringan, singkat namun penuh makna.
Dari percakapan itu, aku mengenalnya sebagai Om J. Beliau adalah seorang pegawai yang sudah mengabdi di UNIMA selama kurang lebih 13 tahun. Ia bercerita pernah ditempatkan di berbagai fakultas—salah satunya yang kuingat adalah fakultas olahraga. Wajahnya berbinar-binar ketika bercerita. Dengan semangat, ia menyampaikan betapa bersyukurnya ia karena akhirnya, di usia 53 tahun, ia resmi diangkat menjadi pegawai PPPK. Suaranya bergetar halus, matanya tampak haru. Dari raut wajahnya saja sudah jelas terlihat bahwa kabar itu adalah berkat yang begitu besar baginya.
Om J juga bercerita bagaimana ia menikmati berjalan kaki setiap hari menuju tempatnya bekerja. Dari caranya berbicara, aku belajar satu hal: beliau adalah sosok yang memandang hidup dengan cara yang positif. Meski perjalanan panjangnya penuh tantangan, syukur selalu menjadi nada utama dalam kisahnya.
Obrolan singkat itu menyisakan jejak yang dalam di hatiku. Kadang kita, manusia, begitu sering memaksakan kehendak. Kita lupa bahwa hidup ini bukanlah sebuah pertandingan siapa yang lebih cepat, siapa yang lebih berhasil duluan. Kita punya rentang waktu yang berbeda-beda, punya proses masing-masing. Dan yang terutama adalah bagaimana kita belajar bersyukur di sepanjang perjalanan itu.
Aku melanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang hangat. Saat melewati deretan pohon, aku menyaksikan daun-daun gugur dengan anggun. Rasanya seolah alam sedang menyambutku, memperlihatkan keindahan yang tak bisa aku deskripsikan dengan kata-kata. Aku merenung: hidup ini pun sama seperti pohon. Ada masa di mana kita harus merelakan daun gugur, ada waktu di mana daun tumbuh rimbun, lalu saat bunga bermekaran, hingga akhirnya buah muncul. Semua fase itu indah, selama dijalani dengan keanggunan dan rasa syukur.
Aku bagikan sedikit foto-foto indah pagi ini sebagai pengingat betapa layaknya kita selalu bersyukur.
Semangat selalu 🌸✨

.jpeg)

.jpeg)


Comments
Post a Comment