Aku dan Mimpiku

 

Hai, semuanya, hari ini saya mau ngomongin tentang mimpi.

Mimpi itu apa sih sebenarnya? Menurut saya mimpi itu kayak bahan bakar yang menggerakkan dan mengarahkan diri saya. Mengarahkan kemana? Mengarahkan diri saya semakin mendekat ke mimpi saya. Nah, mimpi itu sendiri kadang berubah sedikit ataupun bergeser sedikit, disesuaikan dengan diri kita. Saat kita semakin mengenal diri kita, kemampuan kita, kelebihan kita dan kekurangan kita, mimpi kita pun menyesuaikan diri, namun bukan berarti mimpi itu hilang.

Dari saya kecil, saya pengen banget jadi dokter, kalau dipikir-pikir, kenapa saya ingin menjadi dokter, karena saya ingin menyelamatkan banyak orang, bahkan saya sering bermimpi saya pergi ke pedalaman seperti Ibu Butet yang pergi dan mengajar di pedalaman, seperti iklan yang sering saya tonton waktu saya masih kecil. Saya jadi bermimpi bisa menjadi seorang dokter dan guru juga di pedalaman.

Saya seorang anak yang sangat ambisius dan selalu bersemangat saat belajar, hanya saja ada saatnya saya burn out dan stres, tapi yah, semuanya bisa saya lewati. Walaupun berdarah-darah, ha ha ha, istilah itu yang seringkali saya ucapkan saat saya harus menjelaskan sebuah perjuangan dan proses yang berat.

Akhirnya saya lulus dari SMAN 2 Cimahi, dan saya dapat rangking 3, menurut saya sudah bagus banget, ha ha ha, yah, karena saya berjuang habis-habisan untuk mendapatkannya. Saya mendaftar ke salah satu universitas di Sumatera Utara yang membuka kedokteran, dan tadaaaa, saya gagal, saya justru masuk ke Pendidikan Matematika UNIMED (Universitas Negeri Medan), yah saya masuk ke pilihan kedua saya. Dulu saya marah-marah dan kecewa sama TUHAN, saya merasa kerja keras saya kok kayak sia-sia.

Saya mulai kuliah saya dengan baik, namun masih ada keinginan memasuki kedokteran. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya memahami satu hal, finansial, yah, biaya sebagai mahasiswa kedokteran itu tidak main-main. Bagaimana kalau kuliah saya terhenti di tengah jalan? Akhirnya saya melanjutkan kuliah saya di Pendidikan Matematika, tentunya tetap dengan ambisius, karena pada dasarnya saya adalah seseorang yang suka dengan rasa puas sudah melakukan yang terbaik.

Saya bisa meyelesaikan dan mendapatkan gelar sarjana pendidikan, yah memang tidak secepat beberapa teman saya, namun saya lulus dengan hasil yang baik dan waktu tidak terlalu lama juga. Walaupun berdarah-darah, namun dapat saya lalui.

Saat kuliah, saya mengikuti kelompok kecil untuk mendalami Alkitab, disitu saat ditanya tentang mimpi, saya katakan, kalau saya ingin menjadi dosen. Yah, karena itu saya tahu, setelah bekerja, saya akan melanjutkan kuliah saya dan mengambil gelar master saya. Saya bekerja selama satu tahun di sebuah sekolah swasta, kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah saya dan mendapatkan gelar master.

Setelah bekerja, saya jadi menyadari betapa beratnya tanggung jawab sebagai seorang tulang punggung keluarga. Namun, dengan ambisius berlebihan dan tidak adanya perhitungan yang tepat, saya tetap nekat mengambil S2 saya, alhasil saya gagal. Ketidakmampuan menyesuaikan waktu, pikiran dan finasial bersama-sama membuat saya perlahan menjauh dari mimpi saya.

Beberapa tahun kemudian, saat kemampuan finasial mulai membaik, saya kembali mengambil S2 saya, namun kesibukan dalam pekerjaan membuat saya menjadikan kuliah saya sebagai prioritas nomor sekian. Saat saya melihat adanya kesamaan pola pada hidup saya dengan diri saya yang dulu, saat kuliah saya gagal, saya segera mengambil keputusan. Saya belajar banyak dari rekan-rekan saya yang sudah menjadi pimpinan, saya belajar banyak dari banyak orang, membuka mata saya dan kembali mengingatkan saya, apa mimpi saya, apa yang saya inginkan dalam hidup saya. Betapa jauhnya saya dari mimpi saya, betapa banyaknya pengorbanan yang telah saya lakukan, apakah hal itu akan berakhir sia-sia.

Saya memutuskan berhenti dari pekerjaan saya, saya sangat yakin. Kemudian saya melamar sebagai guru tidak tetap, saya hanya mengajar dua hari. Selebihnya saya kembali fokus, menyelesaikan tesis saya, yang harus saya mulai lagi dari awal. Ternyata saat saya fokus, saya dapat menyelesaikannya dalam waktu sekitar 10 bulan atau mungkin satu tahun. Walaupun sangat sulit, akhirnya saya wisudadi umur 33 tahun menuju 34 tahun. Di tahun yang sama dengan wisuda, saya melamar sebagai dosen di kampus yang juga memberikan saya gelar sarjana dan master, namun saya gagal.

Setiap kali saya melihat teman saya dan adik saya memakai baju KORPRI saya bisikkan pada diri saya, “Aku juga pengen bisa pakai baju itu, TUHAN.”, bahkan ke rekan kerja saya, kadang saya ucapkan dengan terang-terangan, “Aku juga pengen pakai baju ini.” Namun, saya tahu, peluang kecil, karena tahun depan saya sudah 34 tahun menuju 35 tahun. Saya tidak yakin, karena bulan sebelumnya, biasanya pendaftaran CPNS di sekitar bulan 10, sedangkan saya lahir di bulan September, sekitar minggu kedua.

Namun, keajaiban terjadi, pendaftaran CPNS dibuka akhir bulan Agustus, jadi 5 hari sebelum saya ulang tahun, saya segera mendaftar. Kali ini saya mencoba Universitas Negeri Manado, yang berada di Sulawesi Utara. Saya memilih tempat itu karena mereka membuka penerimaan untuk dua dosen dari jalur umum, sedangkan di kampus saya mendapatkan gelar, hanya membuka satu pendaftar saja.

Begitu saya mendaftar dan memutuskan memakai nilai saya tahun lalu, saya langsung mencari gereja HKBP di daerah saya akan mengajar nanti. Saya beriman dan yakin, kali ini saya akan menang. Salah satu sahabat dengan begitu baik, memberikan saya kesempatan untuk les persiapan wawancara dan mikro teaching. Saya terapkan semua masukannya dan puji TUHAN, saya masuk dan mendapat nilai yang sangat memuaskan. Bahkan wawancara saya mendapat nilai sempurna.

Dan akhirnya, besok saya akan pergi membeli baju KORPRI saya, saya merasa sangat senang dan bahagia, akhirnya saya kembali ke jalur trek mimpi saya. Sudah terlalu lama saya menyimpang dari jalan mimpi saya, namun TUHAN kembali mengingatkan saya akan mimpi saya. Saya bersyukur, sangat bersyukur, tanpa kesempatan dan kuasa yang TUHAN berikan, saya tidak akan bisa mendapatkan ini semua.

Saya bisa mendapatkan ini semua juga dikarenakan saya menemukan lingkungan kerja yang sangat nyaman, walaupun saya tidak sampai satu tahun bekerja di sebuah yayasan terakhir saya bekerja, yaitu Yayasan Sangkara, sebagai guru Matematika di jenjang SMP dan SMA. Lingkungan yang nyaman membuat saya memiliki ketenangan juga dalam mempersiapkan diri, sebelum melaksanakan ujian saya. Saya didukung dengan sangat luar biasa, semoga yayasan ini dapat semakin berkembang kedepannya. Saya juga banyak belajar terkait kepemimpinan dan kefleksibelan dalam bekerja di sekolah yang bagus ini.

Mungkin bagi beberapa orang, mimpi saya ini dapat mereka capai dengan mudah, namun, saat banyak faktor berusaha membuat kita semakin jauh dari mimpi kita, seringkali kita jadi melupakannya. Namun, apa yang memang sudah dijalankan untuk kita, pasti akan kita dapatkan, asalkan kita selalu berdoa dan berjuang, walaupun berdarah-darah.

Semangat para pejuang mimpi...

 Perjalananku masih panjang, mimpi selanjutnya adalah menyelesaikan doktoral saya dan menjadi profesor...

SEMANGATTTT

Comments

Popular posts from this blog

Sharing Cerita Waktu Lagi Burnout (Teacher Burnout)

Pagi yang Membisikkan Suara TUHAN