Dihancurkan, Dilebur, Disembuhkan, Dibentuk, Perlahan-lahan Diangkat – Part 2 (Last)

 

Ternyata, tesis saya yang tak kunjung selesai menjadi penghambat besar dalam hidup saya. Saya kesulitan menentukan prioritas. Atau mungkin, saat itu, memang tesis bukanlah prioritas utama dalam hidup saya. Saat saya merasa, “Kok, tesis saya tidak selesai-selesai?”, bukannya saya menyelesaikannya, saya justru malah semakin menjauh. Ketika akhirnya tesis itu selesai, saya bahkan tidak punya waktu untuk bertemu dosen pembimbing saya.

Mungkin, kesibukan bekerja dan rasa lelah yang terus-menerus membuat saya kehilangan tenaga untuk menyelesaikannya. Hingga akhirnya, saya harus drop out. Menyedihkan, ya. Saya sangat kecewa—terutama pada diri saya sendiri. Saya bingung, kehilangan arah, padahal saya sudah cukup dewasa, seharusnya.

Kemudian, kampus saya yang sangat baik menawarkan solusi: saya bisa turun stambuk, tetapi status saya tetap dicatat sebagai mahasiswa yang pernah DO. Saya juga harus mengambil beberapa mata kuliah tambahan karena adanya perbedaan kurikulum. Akhirnya, saya mengikuti proses kuliah itu. Jujur saja, saya tidak nyaman karena harus bergaul dengan rekan-rekan yang jauh lebih muda. Tapi ya sudahlah, itu harga yang harus saya bayar.

Duduk sendirian di pojok kelas adalah hal yang biasa saya lakukan. Sebenarnya saya merasa nyaman dengan posisi itu. Namun, saya tak yakin bagaimana pandangan teman-teman atau bahkan dosen terhadap saya. Bisa saja mereka menilai saya aneh atau lain dari yang lain.

Sayangnya, meski saya tetap datang ke kampus, tesis saya tetap tak kunjung selesai. Saya selalu ketakutan setiap kali harus bertemu dengan dosen pembimbing, apalagi salah satu dosen penguji saya dikenal sering berkata kasar saat marah. Akhirnya saya jadi makin malas. Entah mengapa, semua hal terasa seperti bekerja sama menjatuhkan saya. Saya merasa hancur, gagal, kecewa... bahkan sempat berharap saya mati saja. Tapi saya pikir, bagaimana jika saya jadi hantu penasaran? Karena masih banyak yang belum saya selesaikan. Ha ha ha...

Saya membiarkan semuanya berjalan mengikuti alur. Saya hidup, hanya sekadar hidup. Orang-orang melihat saya sebagai sosok yang semangat dan ceria, khususnya di tempat kerja. Tapi sebenarnya, saya berantakan. Hancur. Tidak teratur. Kacau. Semua hal yang menyedihkan, ada di dalam diri saya.

Sampai akhirnya, saya tiba di titik terendah. Hati saya terus-menerus berbisik: selesaikan kuliahmu. Saya sempat ingin pindah ke kampus swasta, tapi adik saya memberikan gambaran logis kenapa sebaiknya saya tidak melakukannya. Saya terima nasihat itu, karena memang masuk akal.

Saya mulai memperbaiki diri. Saya lebih selektif dalam memilih orang-orang di sekitar saya. Saya berusaha mengelilingi diri dengan mereka yang lebih rasional daripada emosional. Saya belajar berani mengambil keputusan.

Saat itu, saya merasa peluang untuk DO lagi sangat besar. Dan saya sudah mulai terlihat menyerah. Namun, setelah ada beberapa hal yang tak sesuai di tempat kerja, saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Saya berhenti, dan mengambil waktu untuk istirahat beberapa hari.

Kemudian saya mengirim pesan kepada dosen pembimbing. Saya meminta maaf dan berjanji akan menyelesaikan tesis saya kali ini. Saya mulai dari awal—betul-betul dari awal—karena semua data saya sudah hilang. Ha ha ha…

Saya mulai rutin bertemu beliau. Saya juga mendapatkan dosen penguji baru, karena dosen yang terkenal “sedikit sulit” itu digantikan oleh sekretaris program studi. Semua terasa seperti bantuan dari Tuhan agar saya bisa menyelesaikan kuliah saya secepat mungkin.

Saya bertemu teman-teman seperjuangan yang luar biasa. Mereka masih muda, tapi luar biasa. Saya belajar banyak dari mereka. Saya merasa senang, dan bersyukur.

Hingga akhirnya, atas izin TUHAN, berkat, dan kasih karunia-NYA, saya berhasil menyelesaikan studi S2 saya dan diwisuda. Saya juga mendapatkan pekerjaan yang luar biasa, bertemu siswa-siswa hebat, dan rekan kerja yang luar biasa, di dua sekolah yang sangat berarti. TUHAN sungguh baik kepada saya.

Dan, di akhir masa pendaftaran CPNS dosen, TUHAN mengizinkan saya mengabdi di salah satu kampus negeri di Sulawesi Utara. TUHAN bekerja dengan sangat luar biasa dalam hidup saya.

Ternyata selama ini, saya terlalu sombong. Saya sering merasa keluarga saya tidak memahami perasaan, pikiran, mimpi, dan cita-cita saya. Padahal, mama dan adik-adik saya adalah orang-orang yang tidak pernah sekalipun meninggalkan saya.

Kini, saya sedang berjuang menjadi seorang dosen yang baik. Meskipun saya belum pernah menjadi dosen sebelumnya, saya yakin pengalaman saya sebagai guru selama 12,5 tahun akan berdampak besar terhadap cara saya mengajar. Mungkin saya harus lebih disiplin dalam menulis jurnal dan melakukan pengabdian, juga lebih sering membangun koneksi dan relasi. Pasti sulit, karena saya ini sangat introvert. Tapi saya percaya, saya bisa—selama saya berjalan bersama TUHAN.

Ya, begitulah… kira-kira secuil kisah dari perjalanan hidup saya.

Saya sadar, saat saya membuka tangan dan meminta tolong kepada TUHAN dan keluarga, di situlah awal dari segala hal luar biasa dalam hidup saya.

Semangat untuk kita semua.

Comments

Popular posts from this blog

Sharing Cerita Waktu Lagi Burnout (Teacher Burnout)

Pagi yang Membisikkan Suara TUHAN

Aku dan Mimpiku