Dihancurkan, Dilebur, Disembuhkan, Dibentuk, Perlahan-lahan Diangkat – Part 2 (Last)
Ternyata, tesis saya yang tak kunjung selesai menjadi penghambat besar dalam hidup saya. Saya kesulitan menentukan prioritas. Atau mungkin, saat itu, memang tesis bukanlah prioritas utama dalam hidup saya. Saat saya merasa, “Kok, tesis saya tidak selesai-selesai?”, bukannya saya menyelesaikannya, saya justru malah semakin menjauh. Ketika akhirnya tesis itu selesai, saya bahkan tidak punya waktu untuk bertemu dosen pembimbing saya. Mungkin, kesibukan bekerja dan rasa lelah yang terus-menerus membuat saya kehilangan tenaga untuk menyelesaikannya. Hingga akhirnya, saya harus drop out. Menyedihkan, ya. Saya sangat kecewa—terutama pada diri saya sendiri. Saya bingung, kehilangan arah, padahal saya sudah cukup dewasa, seharusnya. Kemudian, kampus saya yang sangat baik menawarkan solusi: saya bisa turun stambuk, tetapi status saya tetap dicatat sebagai mahasiswa yang pernah DO. Saya juga harus mengambil beberapa mata kuliah tambahan karena adanya perbedaan kurikulum. Akhirnya, saya ...